Idul Fitri 1446 H sudah di depan mata. Hari yang dinanti-nanti sebagai simbol kemenangan setelah sebulan penuh menahan diri. Meja makan dipenuhi ketupat, opor ayam, rendang, dan berbagai hidangan khas Lebaran. Namun, di tengah kemeriahan itu, pernahkah kita bertanya apakah semua ini masih bermakna jika hati kita masih dipenuhi kesombongan?

Lebaran seharusnya menjadi momen kembali suci, bukan hanya secara lahir tetapi juga batin. Sayangnya, banyak dari kita yang masih terjebak dalam kesombongan, entah karena jabatan, harta, pendidikan, atau bahkan sekadar pencapaian yang kita anggap lebih tinggi dibandingkan orang lain. Kita mudah tersenyum saat bersalaman, tetapi dalam hati masih ada rasa lebih unggul. Kita meminta maaf, tetapi hanya sebagai formalitas, tanpa benar-benar merendahkan diri.

Sikap merasa paling hebat ini tidak hanya terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tetapi mungkin juga dalam dunia kerja. Ada yang merasa jabatannya membuatnya lebih berhak dihormati. Ada yang menganggap keberhasilannya sebagai hasil kerja keras sendiri tanpa menyadari banyak orang lain yang berperan dalam kesuksesannya. Ada juga yang sulit menerima masukan, merasa dirinya paling benar. Padahal, dunia terus berputar. Hari ini kita di atas, besok mungkin di bawah.

Lihatlah sejarah, banyak orang yang jatuh bukan karena kurang pintar, melainkan karena terlalu sombong untuk belajar. Perusahaan besar pun bisa runtuh jika menganggap dirinya tak terkalahkan. Seseorang yang dulu dipuja bisa dilupakan jika lupa cara bersikap rendah hati.

Ketupat dan opor bukan sekadar makanan, tetapi simbol. Ketupat dengan anyamannya yang rumit mengajarkan bahwa hidup ini penuh lika-liku. Isinya yang putih setelah dikupas menggambarkan hati yang seharusnya kembali bersih. Opor dengan kuah santannya yang kaya rasa melambangkan kelembutan hati yang harus kita miliki dalam berinteraksi. Tapi semua ini akan kehilangan makna jika kesombongan masih ada.

Lebaran bukan ajang pamer pakaian baru, mudik dengan mobil mewah, atau membanggakan pencapaian selama setahun terakhir. Ini adalah saat untuk menekan ego, meminta maaf dengan tulus, dan memulai kembali dengan hati yang lebih rendah hati.

Maka, di Idul Fitri 1446 H ini, mari kita bertanya pada diri sendiri, apakah kita benar-benar kembali suci? Atau hanya merayakan kemenangan dengan kesombongan yang masih melekat? Jika jawabannya yang kedua, maka ketupat dan opor di meja hanyalah hiasan tanpa makna. Selamat Iedul Fitri 1446 H, semoga Allah mengampuni segala dosa kita, dan menerima ibadah puasa kita. Aamiin yaa Robbal alamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *